Tampilkan postingan dengan label Fiction. Tampilkan semua postingan

Source : Pinterest Bersedih pada ujung malam hal yang paling Elisa benci. Saat semua orang menikmati hening bumi, ia terus saja mengusa...

Tiga Renjana Tiga Renjana

Personal Blogger Medan | Blogger fiksi Indonesia | Digital Media Strategist | Designer Grafis Medan

Fiction

Source : Pinterest
Bersedih pada ujung malam hal yang paling Elisa benci. Saat semua orang menikmati hening bumi, ia terus saja mengusap air mata dengan sapu tangan lembap berwarna putih.
Pada jendela di hadapannya Elisa ingin bersabda bahwa ia lelah dengan pria nun jauh di sana.
Sebab jendela benda mati, ia hanya meneruskan resah Elisa ke sisi luarnya, tempat dimana ada suara binatang malam bersautan, angin yang bermain dengan daun, bintang yang terlihat sama setiap malam padahal tidak. 
Seperti ada yang berubah? apakah sepasang kekasih bisa kehilangan topik obrolan? atau kebosanan sedang mendekatinya? atau mendekatiku? kurang bersyukurkah? Elisa terus saja bertanya sendiri, di hadapan jendela.

Ami, Laki-laki yang ada dalam kepala Elisa mungkin terkontak batin
Pagi saat ia terjaga, sekitar pukul 6 mungkin. Ia langsung melihat ke layar smartphone-nya. Tidak ada notifikasi chat dari perempuannya. Ia sebenarnya, sebelum tidur tadi malam ingin berhenti untuk tidak perduli. Memanfaatkan suasana lengang malam untuk menyapa-meminta maaf-dan berbincang seperti biasa. Tapi nyatanya tak ia lakukan.
Alhasil dingin pagi dan rindu masih setia berdampingan.

Elisa membuka percakapan pada layar handphone. 
"Aku bingung, kenapa dia berubah, Ian" 
Darian membaca chat masuk dari teman dekatnya
"Aku kira usia bisa membuat cara menghadapi pasangan bisa lebih mudah"
Elisa mengetik....
"Mungkin kami sama-sama kehilangan gairah untuk saling bercerita"
Darian tersenyum, ia punya solusi mungkin dirasa tepat
Jam menunjukan pukul tiga pagi
Darian berhenti membalas, Elisa tersenyum merasa masukkan dari Darian pasti terbaik

Ami memberi emoticon sebuah pelukan
Senyum elisa terbentuk. Keduanya kembali dengan hati yang berada di posisi semestinya. Saling Sayang.

Ini pelik.
Di belahan bumi selatan, Darian juga tengah berdiam. 
Sudah seminggu, tak ada hari dilewatkannya tanpa memikirkan Elisa, nama wanita itu.
Yang kemarin dia beri nasehat

***
Tiga Renjana, mungkin akan dilanjutkan menjadi sebuah draft.
Kalau mau kasih masukan kasih komentar di kolom atau chat pribadi juga boleh :)

source Seperti biasa, pagi itu aku datang sebuah tempat bernama Firdevort . Tempat dimana semua orang memamerkan sayap-sayap yang me...

Sebelah Sayap Sebelah Sayap

Personal Blogger Medan | Blogger fiksi Indonesia | Digital Media Strategist | Designer Grafis Medan

Fiction

source


Seperti biasa, pagi itu aku datang sebuah tempat bernama Firdevort.
Tempat dimana semua orang memamerkan sayap-sayap yang mereka punya.
Dan seperti biasa pula, setiap orang yang melihatku akan bertanya-tanya dalam hati.
Saat semua punya dua sayap pada punggung mereka, aku hanya punya sebuah saja.
Aku tau apa yang ada di benak mereka. Kalau tak dipuji, setiap hal yang berbeda, akan berubah menjadi caci.

Oh ya, asal kalian tau. Ditempatku berada, sayap tak digunakan untuk terbang saja.
Ada yang memostingnya pada sosial media
Ada juga yang menjadikannya kantung rupiah.
Lain orang, lain guna.
Lantas kalian pasti bertanya kemanakah sayapku yang satunya?

Mari kuceritakan.
Sama seperti yang lain, dulu punya dua sayap di punggung
Terkepak  menawan.
Kalau pagi sampai, kuhidupkan keran dan menyiramnya dengan perlahan.
Walau tak terlalu indah, setidaknya aku punya sayap yang bisa membawaku terbang rendah.
Tapi sampai sebuah kejadian menghilangkannya.
Aku ditipu oleh seorang yang memiliki sayap luar biasa indahnya.

"Kau mau mempunyai sayap sepertiku?" Tanyanya mengaggetkanku saat aku tengah khusyuk menganggumi sayapnya.
Aku mengangguk.
Dia Tersenyum
"Ayo ikut aku"
Kami berjalan menuju jalanan kota.
"Kau lihat gedung itu? disana akan kau temukan sayap yang indah sepertiku
Aku yang masa itu teramat ingin lupa diri

"Permisi" aku sudah ada di depan pintu di dalam gedung yang orang asing pemilik sayap indah tunjukan
"Sebentar" teriak dari dalam
Aku menunggu dengan sabar namun cemas.
Pintu terbuka
Sambutan kasar dari dalam membuatku terhempas di lantai.
"Hei, apa ini"
Pria hitam erat menggenggam, aku panik dalam diam
Sayapnya luas dan tajam
Lucutannya membuatku sadar, bodohnya aku cepat percaya pada orang luar

Sayapku patah, hati lebih parah
Aku tak berani keluar beberapa hari
Serasa kotor diri

Hari ini aku memberanikan diri untuk keluar dengan satu sayap
Ah, tak ku hirau saat orang lain memandang ini aib
Biarlah satu daripada tidak sama sekali

Oiya yang membuat semangat lagi aku punya 4 sayap di rumah yang bisa ku pandang walau tak bisa terpasang
ya 4 sayap. 2 sayap orang asing yang merayuku, dan 2 sayap milik pria hitam
Badannya jangan tanyakan, aku tak butuh jasad busuk perusak masa depan orang.

Azmi masih sangat muda pada saat datang ke tempat ini. Kira-kira seumur dengan pohon Rhododendron yang belum berbunga di depan halaman. Y...

Azmi, Ribuan Kertas Putih dan Perempuan Yang Ditunggunya Azmi, Ribuan Kertas Putih dan Perempuan Yang Ditunggunya

Personal Blogger Medan | Blogger fiksi Indonesia | Digital Media Strategist | Designer Grafis Medan

Fiction

Azmi masih sangat muda pada saat datang ke tempat ini.
Kira-kira seumur dengan pohon Rhododendron yang belum berbunga di depan halaman.
Yang Azmi tau, tempat ini sangat jauh,
Tak terjangkau dengan ribuan langkah ragu
Juga waktu yang diam-diam bernafas malu
Lantas apa yang membuat Azmi mau tinggal sendiri
Dan menghabiskan waktu yang tak bisa dihitungnya dengan pasti
Adalah seorang perempuan, Azmi yakin dia akan datang

Selama perempuan yang ia tunggu belum tiba
Azmi tak berdiam diri.
Ia sudah menyiapkan ribuan kertas putih bersih
Tak lupa pula ia sudah meraut tajam-tajam pensil berbahan kayu aghatis untuk mengisi kesenggangan waktunya.
Seperti kemarin kertas yang entah keberapa dituliskannya sebuah ucapan kerinduan tanpa meratap. Karena Azmi yakin rindu bukan hanya soal kesedihan, tapi juga soal masa depan.
Di hari yang lain, Azmi dengan tekun menggiring ujung pensilnya dari pagi sampai suara burung kowak menemani.
Karena kelelahan ia tidur dengan alas sebuah lukisan wanita memakai kerudung yang diselesaikannya sebelum waktu shubuh.

Pagi itu Azmi merasa sangat bersemangat
Mungkin sebuah pertanda dari semesta bahwa perempuan yang didamba akan tiba
Disiapkannya sebuah kemeja hitam polos,
Karena ia yakin pertemuan ini akan membuat air mata dia dan sang perempuan akan berguguran
Kemeja hitam akan mengaburkan air mata kami, bisiknya dalam hati
Oiya, kertas tak ada yang tak berisi
Semua tertumpuk dan penuh dengan ungkapan hati
Setelah mendekapnya puas kertas-kertas ini akan kuberi
Mungkin pesan akan tersampaikan, Bahwa menunggu sambil mengantungi rindu bisa menjadi sangat indah.

Sampai malam tiba perempuan idaman tak kunjung datang.
Azmi berkaus hitam masih berharap, kertas-kertas masih terus didekap



Source


Yuna masih berada di sudut ruangan gudang belakang, ia rasa itu tempat yang paling aman saat ini. Diluar rumahnya, mendung abu-abu mas...

Pacar Baru Pacar Baru

Personal Blogger Medan | Blogger fiksi Indonesia | Digital Media Strategist | Designer Grafis Medan

Fiction



Yuna masih berada di sudut ruangan gudang belakang, ia rasa itu tempat yang paling aman saat ini. Diluar rumahnya, mendung abu-abu masih menggantung. Keringat didahi jatuh dengan sendirinya. Nafasnya turun naik diantara dada dan tenggorokan.

"Yuna dimana kamu?" Suara pria ringan tanpa beban terdengar dari luar. Yuna terus mengawasi pintu kamarnya dari dalam.

Yuna menangis tanpa suara. "Ayah, Ibu cepatlah pulang" mohonnya dalam hati.

Ia masih bingung kenapa pria yang 40 menit yang lalu masih menjadi pacarnya, saat ini menjadikannya semacam buruan.

***
"Sayang, kamu yakin gak mampir dulu?" Tanya Yuna pada Raja, pacar barunya.
"Aku langsung pulang ya, belum siap kenalan sama orang tua kamu" jawab Raja tersenyum.
"Orang tuaku lagi arisan, paling juga malem pulangnya. Dirumah cuma ada Bibi" Yuna menarik tangan pacarnya itu.
Raja tak enak menolak lagi. Ia turuti kata-kata Yuna dengan segera memasukan sepeda motor ke dalam garasi rumah.

***
Yuna memberanikan diri mendekat ke arah pintu gudang untuk memeriksa apakah Raja masih memburunya. Matanya hampir menempel pada lubang kunci. Tampak lengang. Ia kembali teringat Bibi.
***
"Aku mandi dulu ya" Pamit Yuna pada Raja.
"Kamu nonton aja dulu, oiya ini Bibi Ani. Orangnya baik cuma agak cerewet" Yuna mengenalkan bibi pada Raja saat Bibi datang dengan segelas teh hangat. 
"Makasih ya, Bi " Kata Raja dengan senyum. Bibi tersenyum sambil mengangguk melihat tingkah dua muda mudi sedang jatuh cinta ini walaupun ada sesuatu hal yang tersirat dipikirannya.

***
Yuna baru saja selesai melilitkan tali kimono mandinya saat suara erangan yang sepertinya datang dari dapur. Pelan memang tapi cukup untuk membuat Yuna bergidik. Yuna segera keluar kamar dan berjalan menuju tempat dimana sumber suara itu.
Yuna terdiam ketika matanya menyaksikan apa yang dihadapannya. Bibi tergeletak di lantai dapur. mulutnya mengeluarkan darah segar. Sementara orang yang membelakangi dirinya, Raja. Bergeming. Hanya tangan dan sebilah pisau menari menyayat.

***
Langkah gontai menyeret terdengar dari balik pintu Yuna bersembunyi. Bayangan orang dari luar terlihat dari sela bawah pintu. Yuna masih ragu untuk kembali mengintip dari lubang kunci. 
Hei langkah itu terdiam, pikir Yuna dalam hati. Apakah ia tau aku di dalam.
Aku harus mengahadapi ini. Ini bukan pertama kali Yuna berhadapan dengan maut. Setahun lalu ia berhasil merobohkan pria asing berbaju oranye yang ingin mencuri dirumahnya. 
Yuna dengan perlahan mendekati peti kayu yang ia tau ada sebilah kapak milik ayahnya.
Dan beberapa ketukan pintu dari luar membuat Yuna menguatkan genggaman pada gagang kapak.
"Hai orang gila, aku tak takut" Yuna menjerit. Ia sudah bersiap sekarang.
Raja pacar barunya tak menjawab. Kali ini sepertinya Raja mencoba menendang pintu gudang itu.
Sekitar 5 kali tendangan dari luar pintu itu roboh. Raja terjatuh kemudian menatap tajam ke arah Yuna. Wanita yang sudah hilang rasa takutnya langsung melayangkan mata kapak tepat dikening Raja. Luka menganga diikuti cairan merah deras keluar.

***
Yuna akhirnya sadar saat ia ada diruangan serba putih, sementara diluar dalam tiga hari ini memberitakan, "Lagi : Setelah tukang Pos, Yuna membunuh pria yang diduga pacar barunya"
Bibi hanya bisa menangis. Seharusnya ia beritahu pacar baru anak majikannya itu, kalau Yuna punya halusinasi nan tinggi.

Biru hampir saja memulai rencana besarnya malam ini sebelum Svart, kucing hitamnya kembali mendekat. Kucing itu menjulurkan lidah dan me...

BIRU BIRU

Personal Blogger Medan | Blogger fiksi Indonesia | Digital Media Strategist | Designer Grafis Medan

Fiction


Biru hampir saja memulai rencana besarnya malam ini sebelum Svart, kucing hitamnya kembali mendekat. Kucing itu menjulurkan lidah dan menjilati bibir bawahnya ketika tau ia berhasil menyita perhatian majikannya itu.
"Sudah tenanglah, ini tak akan lama" Biru berusaha berbicara pada Svart
Ia melanjutkan membuka penutup ranselnya. Svart menjauh ke area dimana jilatan cahaya lampu portable milik Biru tak mengenainya.

Biru bosan menjadi masyakat kelas dua disini. Gliese, tempat dimana seluruh mahkluk berwarna hijau mendapat tempat yang ia katakan "Sempurna". Rumah yang indah dan tertata di tengah kota, Sekolah yang menghasilkan manusia unggulan dan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang dalam jumlah besar sekalipun keringat tak akan keluar. 

Svart masih mengawasi majikannya dari bawah rimbunan yang gelap.

Sambil memegang sebuah kapsul bertuliskan Wolley, Biru kini sudah dalam posisi duduk dengan kepala mendongak. Wolley, penemuan berbahaya yang tak mungkin ia dapatkan secara legal. Kapsul yang digunakan oleh para klan seperti Biru untuk merekayasa genetika agar berubah menjadi manusia Hijau, mahkluk penguasa di Gliese. Beberapa ada yang berhasil namun lebih banyak yang mati sia-sia.

Kapsul sekarang tepat diatas mulut Biru yang menganga kemudian jatuh ke saluran tenggorokan, ia memejam sambil berharap ini tak akan sakit. Sepersekian detik Biru tak merasakan apa-apa.

"Hei tak ada reaksi, Svart" adu Biru pada kucingya yang masih memandanginya dari jauh
"Sudah kubilang ini tak la..." belum selesai kalimat yang keluar dari mulutnya Biru merasakan efek dari kapsul Wolley. Badannya panas dan semakin nyeri seperti tertusuk. Ia berusaha berpegangan pada bumi tepat ia terduduk. Teriakannya seperti tertelan oleh rasa sakit yang amat sangat. Svart menyaksikan ini tak kurang dari 2 menit. Sampai akhirnya, warna kulit Biru mulai berubah.

Svart mulai beranjak ingin mendekati Biru, namun langkah kucing hitam itu ragu.

Biru mengatur nafas. Direnggangkannya jari jemari. Senyum Biru merekah.
"Aku sudah hijau sekarang" Biru setengah berteriak
"Svart, aku sudah hijau sekarang. Hahahaha" tawa Biru pada Svart
Biru bangkit kegirangan. Ia sudah membayangkan bagaimana ia akan hidup menjadi hijau. Tak ada lagi cemoohan, sakit hati dan intimidasi. Dan saat tawanya ingin pecah sekali lagi, nafasnya tersekat. Kepalanya panas. Darah segar mengalir dari lubang hidungnya, sangat deras. Matanya tak sanggup memejam, Urat matanya seperti mendorong ingin keluar.

Benda kecil berwarna kekuningan bergerak bersama darah mulai muncul dari sela-sela sudut mata Biru. Bentuknya seperti larva. Satu, dua, sepuluh dan kelamaan semakin banyak, keluar menyeruak berebut ingin mendahului satu sama lain dari lubang sebesar jarum di sudut mata Biru. Tangan Biru bergetar hebat, tak terkendalikan. Pada akhirnya Lubang pada ujung matanya mulai menutup, campuran larva dan darah juga sudah tak keluar. Degup jantung berjalan lambat dan semakin lambat

Svart sudah tak lagi ditempatnya. Ia pergi. Mencari majikan baru seperti biru namun tak sama dengan biru. Majikan yang bersyukur dengan penampilan yang diberikan tuhan. Tak mencari kesuksesan dengan cara instan.

Biru kini tak menjadi Biru. Tak pula menjadi hijau. Biru kini merah tertidur berselimut darah.


"Bu, nasi yang tidak habis ini kuhabiskan saja ya. Tanggung tinggal sedikit lagi. Takutnya besok basi" kataku sambil membawa piri...

Flashfiction : Orang Tua dan Nasi Flashfiction : Orang Tua dan Nasi

Personal Blogger Medan | Blogger fiksi Indonesia | Digital Media Strategist | Designer Grafis Medan

Fiction

"Bu, nasi yang tidak habis ini kuhabiskan saja ya. Tanggung tinggal sedikit lagi. Takutnya besok basi" kataku sambil membawa piring.
"Makanlah, tapi setelah itu kau tanak-kan lagi beras"
"Kenapa, Bu?"
"Kata orang tua dulu pantang menghabiskan persediaan nasi malam hari. Jika ada orang tua datang datang dan kita tak punya nasi sedikitpun bisa-bisa dia marah!" Jawab ibu
"Orang tua?" tanyaku mendekat

"Ia, jadi dahulu pernah suatu kali salah satu keluarga ayahmu di desa menghabiskan sisa makan malam mereka sampai tak ada sedikitpun nasi tersisa. Pada saat tengah malam, ada yang mengetuk pintu rumah mereka. Sang Ibu mendengar ketukan pintu itu dan membukanya. Seorang nenek tua yang mengaku dari desa sebelah mengatakan ia lapar dan bermaksud meminta nasi. Si ibu yang tau persediaan nasinya memang telah habis mengatakan ia tidak punya nasi, bagaimana kalau di tukar dengan beras saja. Nenek tua hanya mengagguk. Si ibu segera berbalik dan menuju dapur untuk mengambil beras yang ia tawarkan. Sekembalinya dari dapur nenek tua sudah tak ada di depan pintu, Si Ibu tampak sedikit kebingungan dan berusaha mencari di terasnya, tapi hasilnya nihil. Karena yakin nenek tua itu pergi si ibu menutup pintu dan kembali tidur. Esok paginya rumahnya dipenuhi dengan ulat bulu" ibu menjelaskan dengan serius

"Hahhahaa..." aku terpingkal mendengar cerita ibu. Ibu tersenyum melihatku
"Itu mitos, Bu"
"Ya terserah kamu, Bima. Yang penting Ibu sudah menjawab pertanyaanmu tadi" kata ibu masih senyum

***
Jam sudah menunjukan pukul 02.00 mataku belum bisa memejam. Ini karena lapar. Walaupun tadi nya aku tak mempercayai cerita Ibu, tapi tetap saja aku tak memakannya. Sekarang aku tak perduli, akan kuhabiskan saja sisa nasi itu. Aku berjalan keluar kamar menuju dapur. Kuhidupkan lampu biar terkurangi rasa takutku. Lihat? rasa lapar membuat orang menjadi pemberani. 
Aku mengambil sisa nasi yang ada di tudung saji, kuraup lauk seadanya dan menikmati makan dini hari. Sempat aku tersenyum sendiri teringat cerita ibu tadi malam, sampai bunyi ketukan di pintu rumahku terdengar. Senyumku berubah jadi pasi.

source


Mengapa Dia? "Ham" Panggilanku mengejutkan Ilham. Dia segera berbalik, menatapku sekilas dan tertunduk. Keadaan menelanjan...

Mengapa Dia? Mengapa Dia?

Personal Blogger Medan | Blogger fiksi Indonesia | Digital Media Strategist | Designer Grafis Medan

Fiction

Mengapa Dia?

"Ham" Panggilanku mengejutkan Ilham.
Dia segera berbalik, menatapku sekilas dan tertunduk. Keadaan menelanjanginya.

Aku yang memberitaunya soal lubang rahasia itu. Lubang yang bisa meneruskan pandangan ke kamar mandi rumahku.
"Saat anak-anak kos mandi pemandangan disini indah, Ham" sembari membanggakan lubang yang sengaja kubuat dengan sebuah paku berukuran 2 inchi.
Ilham tergelak sembari menggeleng. Aku tau Ilham anak baik tak akan mengikuti tingkah cabulku, itu yang membuatku percaya padanya dan memberitahu rahasi lubang itu.
"Kau boleh memakai lubang saat semua anak kos mandi" Ujarku semangat. 
"Asal jangan kakak perempuanku, Ham" lanjutku menjelaskan aturan mainnya.

Dan sekarang kusaksikan Ilham melanggar itu.


Alunan lagu Berdua Saja Payung Teduh, menemani Goly. Ia merasa sedikit tenang setelah kejadian sebelum promnight beberapa jam yang lalu. ...

Post Prom Post Prom

Personal Blogger Medan | Blogger fiksi Indonesia | Digital Media Strategist | Designer Grafis Medan

Fiction

Alunan lagu Berdua Saja Payung Teduh, menemani Goly.
Ia merasa sedikit tenang setelah kejadian sebelum promnight beberapa jam yang lalu.
Munculnya Goly dikontrakan Javin dengan tiba-tiba, berujung pada tertangkapnya Javin sedang berdua dengan wanita lain, yang tak lain adalah sepupunya, Varsa.

Goly tak bicara apapun. Mungkin sudah belasan kali Varsa membuatnya seperti ini. Goly sebut ini dengan "Drama Pelacuran". Javin mencoba mengejarnya, namun Goly lebih lugas berlari dan mendapatkan taxi. Ia kunci pintu saat Javin hampir saja meraih lengannya.Pesta Prom ia batalkan. 

***
[Lupakan kejadian tadi siang, aku mengundangmu untuk memasak makan malam bersama] Send. 

Varsa tersungging kecut.

[Ok] Varsa menjawab pesan singkat itu.

Tanpa melepas gaun prom, Goly saat ini berhadapan dengan Varsa.
Lagu Berdua Saja milik Payung Teduh masih berulang terus.

"Aku ingin kau berubah" Wajah Varsa terlihat datar ketika Goly berkata seperti ini.
Goly menganggap ini nasihat dari seorang saudara yang baik.
Varsa-pun tampaknya menerima itu, dengan punggung yang menganga karena sayatan sepanjang 30 senti oleh pisau Goly.

***
[Lupakan kejadian tadi siang, aku mengundangmu untuk makan malam] Send.
Javin tersenyum.

 

Adith menuju sudut kamar. Potongan tubuh Rani masih bertumpuk disana. Bau anyir memenuhi ruangan tak dirasanya. “Aku takkan melepasmu say...

Teman Teman

Personal Blogger Medan | Blogger fiksi Indonesia | Digital Media Strategist | Designer Grafis Medan

Fiction

Adith menuju sudut kamar. Potongan tubuh Rani masih bertumpuk disana. Bau anyir memenuhi ruangan tak dirasanya.
“Aku takkan melepasmu sayang”
Adith mengambil tangan Rani yang tak utuh, menciumnya sambil memejam, kemudian diakhiri dengan memasukan jari pucat dan kaku itu ke mulutnya. Mengunyah tanpa ragu sedikitpun.
Lengan, kaki, kemudian diikuti bagian isi perut Rani.
Aku tegak mengalihkan pandangan. Apa yang merasuki teman satu asrama ku ini?
Masih kutahan napas agar hilang mualku, lalu memberanikan diri membungkuk  melihat dari sela lubang kunci. Mayat Rani tak berada di tempatnya. Adith juga.
“Kau sedang apa?” Suara Adith dari belakang sambil menghujam pinggang kiriku.



Jumlah kata : 100
Picture : Nge-photoshop sendiri

Hei mantan apa kabarmu di sana? Masih suka bersosial media sampai larut? Atau masih sering memburu tiket murah M edan- B angkok- M ...

Akhir Desember 2010 Akhir Desember 2010

Personal Blogger Medan | Blogger fiksi Indonesia | Digital Media Strategist | Designer Grafis Medan

Fiction


Hei mantan apa kabarmu di sana?
Masih suka bersosial media sampai larut?
Atau masih sering memburu tiket murah Medan-Bangkok-Medan?
Aku letih mengikutimu.
Sekarang aku berhenti.
Ku block saja lah ya semua akunmu.
Agar tak kulihat semua aktifitas hedon yang kamu gemari
Saat siang aku tak lagi melihat foto secangkir kopi dan senampan pizza yang kamu unggah.
Disenja hari aku juga tak akan melihat notifikasi kamu sedang mendengar lagu sendu. Lagu yang berusaha kamu hapal karena sedang populer. Dan dimalamnya aku enggan menerima info kalau kamu sedang berada di caffe si anu.

Hei mantan tempat mu telah diganti.
Aku menemukan dia.
Wanita yang sebenarnya wanita.
Bersosial media seperlunya.
Membeli tiket juga saat butuh.
Aku terus bersamanya. Tanpa kata lelah.
Aku bersedia menyaksikan apa yang dia kerjakan.
Pagi saat matahari muncul dengan malu-malu, dia sudah selesai menghadap Tuhan. Membersihkan halaman dan tanpa perlu diwarta pada sosial media sebagai update-an.
Siang dia mengirim pesan untuk tak lupa menghadap kiblat sang pencipta.
Malam hari, dia tak pernah lupa mengajakku untuk makan di rumahnya
Meski dengan menu seadanya, itu yang kunamai bahagia.

Hei mantan, bahagiakah kamu sekarang?
Ku harap sih Iya meski dengan atau tanpa siapapun di sisimu.
Karena sepengetahuanku, kebahagiaan hanya sebuah esensi dari kebersyukuran dalam hidup. Sekelam apapun masa lalu kita.
Se misterius apapun masa depan nanti, setidaknya dengan bersyukur bahwa kita hidup di masa kini, kita bisa bahagia.
Aku dengan wanitaku.

Kamu entah dengan siapa.