ANGKOTKALYPTO

Awak suka nonton film. Film horror, komedi, romantis, action, awak tonton. Mulai dari produksi Indonesia, Amerika, Inggris, Perancis, Jepang, sudah awak lahap. Tapi ada satu film yang paling awak suka yaitu film yang dibintang oleh Miyabi  Rudy Youngblood (Jaguar Paw) dengan judul Apocalypto. Film garapan Mel Gibson ini berlatar di semenanjung YucatanMeksiko dan pada masa keruntuhan peradaban Maya. Apocalypto menceritakan perjuangan Jaguar Paw, anak dari salah satu kepala suku Maya yang kabur dari ritual pengorbanan manusia dan menyelamatkan keluarganya dari serangan suku Maya yang lain[1]. Di film ini ada satu scene, saat Jaguar Paw diburu di hutan oleh suku maya yang lain, yang ingin membunuhnya, ia mengucapkan :
“Ayahku berburu di hutan ini sebelum aku ada, sekarang aku adalah pemburu di hutan ini, dan nanti anak-anakku serta anak-anak mereka akan berburu di hutan ini”
Penggalan ini langsung awak catatnya di Draft telepon genggam awak. Saat itu awak yang memiliki kelemahan mengintepretasikan sesuatu, menarik kesimpulan bahwa si Jaguar Paw adalah sepupunya Tarzan. Ya, awak memang lemah.
.Tapi setelah menonton film ini 4 kali awak mengambil kesimpulan betapa si Jaguar Paw tidak takut untuk diburu di hutan yang telah membesarkannya, malahan di hutan tersebut Jaguar Paw bisa mengalahkan suku yang memburunya tersebut. Dan akhirnya, di penghabisan cerita Jaguar Paw bisa menyelamatkan keluarganya.
JJJ
Di suatu senja, dua tahun setelah menonton Apocalypto, tiba-tiba awak ingin sekali duduk di samping supir yang sedang bekerja, mengendalikan angkot supaya baik jalannya. Akhirnya awak memberhentikan angkot yang tentu saja kosong di depannya, sewaktu naik, awak tidak begitu memperhatikan supir yang sedang bekerja tersebut, maklum awak rabun senja. Setelah 2 meter angkot bergerak barulah awak pucet. Awak keringetan, otot-otot perut berkontraksi (Bukan, ini bukan gejala ibu melahirkan)
Awak panic, supirnya masih kecil Bre. Mungkin masih 15-an umurnya. Kakinya emang udah nyampe ke pedal gas dan rem tapi tetap aja awak tekimput[2]. Akhirnya awak mencoba menenangkan diri. Tarik napas keluarkan pelan dan nikmati saat-saat kematian. Setelah 500 meter angkot bergerak kekhawatiran awak sepertinya berlebihan. Supir ankot ini kelihatan ahli mengemudikan angkotnya. Dia tampak tenang dengan tangan pada Steer, handuk biru dikalungkan di tengkuk seolah dia sudah menekuni pekerjaan ini umur 4 tahun. Awak jadi penasaran sama ni anak. Masih kecil aja uda bisa nyetir, awak waktu seumuran dia masih belajar sepeda punya tetangga. 
“Udah lama bawa angkot, De’? Awak memulai percakapan di sebuah lampu merah seputaran Juanda.
“Belum, Bang. Baru setengah taon, tapi dulu sering ikut ayah narik” jawabnya ramah
“Oh, ayahnya supir angkot juga?”
“Ia, Bang. Tapi lagi gak narik sekarang. Lagi sakit, Bang. Makanya awak yang bawa angkotnya” ujarnya sembari memainkan perseneling, lampu sudah hijau.
“Baguslah, selain bisa bantu mamak-ayah kan bisa tambah uang jajan. Jadi ade’ gak sekolah ni?” tanya awak masih penasaran dengan gaya ke-ibuan kebapaan.
“Sekolah, tapi siang uda pulang, Bang. Siap makan siang langsung narik” dia senyum.
Sepanjang perjalanan awak banyak ngobrol sama dia. Oiya namanya Sandi, masih kelas 2 SMP. Sandi narik dari siang sampai Maghrib, sementara abangnya dari pagi sampai siang. Dahulu dia sempat ragu untuk narik angkot, karena dia sendiri sadar umurnya masih kecil dan belum pantas punya SIM. Memang sebenarnya anak seumuran Sandi belum wajib mencari nafkah seperti saat ini. Tangan mungilnya harusnya memegang pena dan buku pelajaran, bukan steer dan perseneling. Tapi desakan ekonomi, kesehatan ayah serta kebutuhan keluarga, menjadikan Sandi harus melakukan ini.
Awak jadi teringat sama film Apocalypto. Jaguar Paw dan Sandi sama-sama tidak takut menghadapi permasalahan yang sedang mereka hadapi. Jaguar Paw mengahadapi hutan belantara, sementara Sandi berhadapan kerasnya jalan raya. Mereka melakukannya dengan berani karena satu hal yaitu rasa cinta pada Keluarga. Mereka mungkin sudah meyadari arti keluarga. Ketika kau sudah menyadari bahwa keluarga adalah hal terpenting, maka saat itu pula kesadaran merupakan pencapaian yang sangat bernilai.
Sandi lebih hebat dari Jaguar Paw yang hanya seorang tokoh pada sebuah film. Awak suatu saat pengen buat saingan film Mel Gibson itu. Dengan judul Angkotcalypto mungkin Sandi bisa jadi pemeran utamanya.






[1] Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

[2] Suatu perasaan yang sama saat kita dikejar anjing (sumber: Neneklopedia)

0 comments: