Flashfiction : Orang Tua dan Nasi

"Bu, nasi yang tidak habis ini kuhabiskan saja ya. Tanggung tinggal sedikit lagi. Takutnya besok basi" kataku sambil membawa piring.
"Makanlah, tapi setelah itu kau tanak-kan lagi beras"
"Kenapa, Bu?"
"Kata orang tua dulu pantang menghabiskan persediaan nasi malam hari. Jika ada orang tua datang datang dan kita tak punya nasi sedikitpun bisa-bisa dia marah!" Jawab ibu
"Orang tua?" tanyaku mendekat

"Ia, jadi dahulu pernah suatu kali salah satu keluarga ayahmu di desa menghabiskan sisa makan malam mereka sampai tak ada sedikitpun nasi tersisa. Pada saat tengah malam, ada yang mengetuk pintu rumah mereka. Sang Ibu mendengar ketukan pintu itu dan membukanya. Seorang nenek tua yang mengaku dari desa sebelah mengatakan ia lapar dan bermaksud meminta nasi. Si ibu yang tau persediaan nasinya memang telah habis mengatakan ia tidak punya nasi, bagaimana kalau di tukar dengan beras saja. Nenek tua hanya mengagguk. Si ibu segera berbalik dan menuju dapur untuk mengambil beras yang ia tawarkan. Sekembalinya dari dapur nenek tua sudah tak ada di depan pintu, Si Ibu tampak sedikit kebingungan dan berusaha mencari di terasnya, tapi hasilnya nihil. Karena yakin nenek tua itu pergi si ibu menutup pintu dan kembali tidur. Esok paginya rumahnya dipenuhi dengan ulat bulu" ibu menjelaskan dengan serius

"Hahhahaa..." aku terpingkal mendengar cerita ibu. Ibu tersenyum melihatku
"Itu mitos, Bu"
"Ya terserah kamu, Bima. Yang penting Ibu sudah menjawab pertanyaanmu tadi" kata ibu masih senyum

***
Jam sudah menunjukan pukul 02.00 mataku belum bisa memejam. Ini karena lapar. Walaupun tadi nya aku tak mempercayai cerita Ibu, tapi tetap saja aku tak memakannya. Sekarang aku tak perduli, akan kuhabiskan saja sisa nasi itu. Aku berjalan keluar kamar menuju dapur. Kuhidupkan lampu biar terkurangi rasa takutku. Lihat? rasa lapar membuat orang menjadi pemberani. 
Aku mengambil sisa nasi yang ada di tudung saji, kuraup lauk seadanya dan menikmati makan dini hari. Sempat aku tersenyum sendiri teringat cerita ibu tadi malam, sampai bunyi ketukan di pintu rumahku terdengar. Senyumku berubah jadi pasi.

source


4 comments:

  1. woop, pelan pelan temukan arah tulisan bree, sepertinya sudah ketemu yaa,

    padahal yang ngetuk itu aku, mau numpang tidur di rumahmu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahah, pelan2 bre. Bah tau gitu aku gak pipis dicelana waktu itu

      Delete
  2. trus arah tulisan gue ke manaaaaa? *tetiba nimbrung gak jelas* haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahah udah kesana aja *nunjuk ngarai sianok

      Delete