Dari aku yang mengalah

Source

Andi berhenti mengaduk susu coklat hangat yang baru ia buat begitu mendengar nada pesan masuk dari telepon genggamnya. Ia letakan minuman yang ia harapkan bisa merubah suasana hatinya saat ini. Bagi sebagian orang, termasuk Andi, segelas susu coklat bisa menenangkan hati. Tetapi untuk sebagian orang lagi perlu segelas besar.

Andi menatap layar.

Pengirim : Reni

- Kak, maafin aku ya. Tolong angkat teleponnya. plis -

Reply :

- Ia, gak papa kok. Aku cuma mau istirahat -

Andi
Menjadi supervisor sebuah restoran bukan cita-cita Andi. Sebagai anak tunggal dari keluarga yang tak utuh, dahulu ia ingin menjadi seorang guru seperti almarhumah ibunya. Namun sebuah rencana tuhan merubah cita-cita seorang Andi kecil. Kehilangan sosok ibu dalam kecelakaan membuat Andi yang masih duduk di kelas 1 SMA patah arang. Andi merasa tak ada lagi alasan dia untuk menjalani hari-harinya. Sebatang kara yang tak punya tempat untuk bercerita, hal itu yang ada di dalam benak Andi. Ayah? Ia tak pernah mengenalnya. Apalagi saat ini, ia benci sosok ayah. Lebih dari sebulan Andi mengurung dirinya.

Bulan kedua setelah cerita duka itu Andi memaksakan diri untuk kembali merajut hidupnya yang baru walapun tak utuh. Ia harus kuat dan mandiri. Sebab tak ada lagi tempat untuk meminta. Semua harus diraih dengan tangan sendiri. Saat ini ia merasa banyak mengalah pada hidup.

-0-

“Ini surat lamaran pekerjaan anak magang, jadi sampai akhir September kau yang pegang dia” titah Managernya. Untuk melajutkan pendidikan setelah SMA, Andi mengambil tawaran pekerjaan dari seorang kerabatnya sebagai karyawan restoran. Restoran ini penjualannya terus meningkat semenjak Andi bergabung sebagai capten. melihat Andi punya kapasitas yang baik, untuk itu Ine diangkat sebagai supervisor. Dan salah satu job descriptionnya adalah mengajari buat anak magang selama 3 bulan.

Andi senyum meraih map dari tangan atasannya itu.

“Terima kasih pak, saya lakukan semaksimal saya ya”

Pak Manager mengangguk  “Sekarang ikut saya”

“Namanya Reni, walaupun belum punya pengalaman saya liat dia anaknya baik. Sekarang kamu interview dia” langkah mereka beriringan menuju ruang meeting.

Andi terbayang beberapa bulan yang lalu saat dia ada di posisi yang sama. Keringat sebesar biji jagung keluar dari dahinya.

Anak magang langsung menoleh ketika mereka masuk.

Untuk pandangan pertama, Andi hening.

-0-

Andi menghela napas. Ia duduk dikursi dapur yang menghadap ke halaman belakang rumah. Seteguk kecil susu coklat masih belum bisa mendongkrak semangatnya untuk pergi.

Bukan tak berniat. Bahkan konser ini sudah ditunggunya. Semua lagu dalam album musik band yang akan konser nanti malam selalu diputarnya saati ia tengah lembur.

Sesuatu yang indah jika dilewati bukan dengan orang yang tepat, sepertinya akan menjadi biasa saja.

Kami

Untuk waktu yang  cepat Andi dan Reni sudah klop. Andi dengan mudah mengarahkan pekerjaan yang dilakukan oleh Reni. Selera mereka sama, mungkin komunikasi diantara mereka nyambung.

Tak hanya itu, Ia dan Reni juga punya selera musik yang sama.

“Lagu ini yang sering aku nyanyiin kak waktu pertama kali jatuh cinta” kata Reni memutar playlist lagu di telepon genggamnya dan berbagi headset. Reni meletakan ke telinga Andi. Andi sedikit terkejut. Saat itu ia merasa nyaman. Tak pernah seperti ini.

“Aku juga suka lagu ini, Ren” liriknya sederhana tapi serius.

 Reni yang punya jarak umur dengan Andi 5 tahun menganggap Andi sosok atasan dan kakak yang baik. Andi pun sepertinya demikian. Reni leluasa bercerita soal apa saja pada Andi termasuk tentang pacarnya. Ya, Reni sudah punya pacar. Pertama kali Reni bercerita soal pacarnya Andi diam. Ia menyanggah semua perasaan yang hadir dalam dirinya.

Dia menganggapmu sebagai kakanya, sudahlah terima saja. Toh kau akan jadi kakak yang baik.

Andi merasa aneh dengan Reni. Ia merasa takut kehilangan Reni. Tapi dia tak mungkin menjadi perusak hubungan Reni dan pacarnya.

“Kak, minggu depan mereka konser disini. Kita nonton yuk” Reni antusias mengajak Andi

“Lah, kok ngajak aku. Pacar kamu mana?” ada nada lain dari jawaban Andi, walaupun ia tersenyum.

“Dia gak suka kak, aku jemput ya nanti” Reni merayu. Andi mengacungkan jempolnya.

“Kita bisa nyanyi bareng di konser nanti kak” kata Reni pada saat pulang kerja kemarin. Sembari berjalan beriringan ke tempat parkir.

-0-

Pagi tadi Reni mengirim pesan singkat untuk Andi. Mendadak pacarnya sakit, walaupun tak sampai dirawat tetap saja Reni harus menemaninya. Itu artinya  Andi harus mengalah lagi.

Andi tak bisa memungkiri, dia sayang pada Reni dan ingin memilikinya. Dua belas panggilan tak terjawab dari Reni dibiarkan saja oleh Andi. Andi berpikir mungkin malam ini ia akan menonton konser sendiri saja. Ia akan mengikuti tiap lirik yang di nyanyikan dengan penonton lain yang sedang patah hati. Menikmati sampai lagu penutup mengalun. Pulang dengan perasaan lebih baik sambil menikmati susu coklat dan tidur dengan tenang. Siapa tau keberaniannya akan muncul bersamaan terbit fajar. Jika keberaniannya telah muncul ia akan menemui Reni dan mengatakan

Aku, Andini Paramita seorang gadis yang membenci laki-laki telah jatuh hati padanya. Maukah kan menjadi miliku.

Selesai sudah tantangan menulis dari Jia Effendie hampir mepet waktunya, tapi gak papa :)

6 comments:

  1. Aaaa, ceritanya keren. Suka sama konsepnya. Apalagi, pas akhir cerita ada kejuta. Awalnya sih, pas baca ceritanya agak lambat gitu alurnya, tapi pas baca akhirnya, langsung klop!

    ReplyDelete
  2. Hihi..Makasih Nikmal :)
    udah gak nyasar lagi kan mau kesini.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Suka banget dengan ceritanya ,,, tadinya aku pikir Andi itu cowok, ternyata bukan. Keren mak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheh, makasih kak Rin. Belajar buat fiksi kak

      Delete