Sudako Pertama

“Mama’ mana, Yah?” tanya Davi kecil sambil membuka kaus kaki dan menyelipkannya ke dalam sepatu.
“Oo, Mama’ ke rumah nenek” Jawab ayah, masih merawat bonsai pete_nya. Ayah memang suka melakukan eksperimen flora. Kata orang-orang tua dulu, orang yang gampang menanam tumbuhan dengan mudah di sebut “bertangan dingin”, ayah salah satunya. Keistimewaan orang bertangan dingin adalah mereka dengan mudah menanam jenis tanaman. Awak berpikir mungkin suatu saat ayah akan men-Stek tumbuhan kumis kucing dengan lidah buaya lalu akan muncul species flora mutan, buaya berkumis kucing, atau bunga mawar dengan daun kentut-kentutan dan melahirkan mawar beraroma kentut.
“Kita gak kerumah nenek, Yah?” lanjut Davi kecil lagi.
“Ia, siap davi makan, Davi pergi tempat nenek ya!!”
“Loh Ayah gak ikut?”
“Gak, Ayah masih ada kerjaan”
“Awak kan masih kecil yah, mana berani naek sudako[1] sendirian”
“Berani lah, anak Ayah ni kan udah belajar silat, jadi kalo ada yang macam-macam, keluarkan aja jurusnya”
Awak senyum geer. Waktu itu awak memang lagi belajar silat di perguruan Tapak Suci. Guru awak sudah mengajarkan beberapa gerakan ampuh, antara lain kuda-kuda, split, kayang, berdiri dengan kedua tangan. Dan Alhamdulillah setelah belajar 2 bulan, awak sudah bisa berdiri dengan kedua kaki…………..sambil pipis.
JJJ
“Pak supir, ini anak saya turun di sentosa lama ya, di Gg. Istirahat, nanti disana mamaknya sudah menunggu, dan ini ongkosnya” kata Ayah sambil naikin awak di dalam sudako atau lebih rincinya di samping supir. Penumpang yang ada di belakang terheran-heran ngeliat cara mudah mengantar anak ke suatu tempat, yang dilakukan ayah saat itu. Awak disini ngerasa ayah cocok punya usaha pengantaran barang. Kalo TIKI dan JNE untuk barang dan dokumen-dokumen, ayah bergerak di bidang pengiriman…..anak.
Sudako berjalan pelan tapi pasti. Ini adalah sudako pertama yang awak tumpangi. Semua hal yang berbau “pertama” akan menjadi hal yang tidak terlupakan. Sampai-sampai iklan AXE zaman dulu bilang kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda (perhatian : disini awak tidak sedang mencium ketek si supir).
Hal-hal yang awak rasakan pertama kali naik sudako.
·         Canggung (awak canggung kali saat itu, kiri pak supir, di belakang penumpang yang ngeliati awak, mungkin mereka sangka awak anak dibawah umur yang jadi kernet)
·         Gak tau mau ngapain ( awak juga gak tau mau ngapain, mau loncat-loncat nanti dikira anak monyet lepas, mau makan, kan tadi udah disuapi ayah, mau pup ntar di tabok pulak)
·         Deg-degan (jantung awak mau loncat saat itu, mana supirnya uwak-uwak yang muka’nya kayak Sumanto[2])
·         Dan perasaan terakhir adalah senang. Apalagi ketika awak melihat dari kejauhan mamak awak sudah tampak.
Pak supir mengerem tepat di depan gang istirahat, sesuai arahan yang ayah awak berikan tadi. Awak turun memeluk mamak awak. semua penumpang terharu mungkin saat itu. Awak rasa ayah telah menemukan cara baru dalam dunia pengiriman anak.
Sebesar Inilah Awak Dilepas Naik Angkot Sendiri





[1] Sudako adalah sebutan angkot pada waktu itu
[2] Seorang pelaku kanibalisme

0 comments: