Resensi Novel CINTA OLIMPIADE (LUPUS) Hilman Hariwijaya ~ Davi

Pernah gak ngerasain "cinta mati" ke orang tapi orang itu sebaliknya, dia sangat "benci mati" ke kita. Itulah yang dirasain oleh si Pinokio. Pinokio cinta mati sama Lulu, adiknya Lupus. Lulu yang masih ABG terang aja nolak PDKT-an yang dilakukan si Pinokio ini. Alasanya karena Pinokio tipe cowok cupu yang tiap ngomong ke Lulu kaya bapak-bapak. Belum lagi dandanannya kaya gini :
Namanya juga cinta mati, si Pinokio make berbagai macam cara agar Lulu membalas cintanya, mulai dari merayu dengan Kebapak-an, sampe bawa buah-buahan. Lulu sampe uring-uringan di rumah. Lupus yang kasian liat adiknya akhirnya ngasih solusi untuk langsung ngomong ke si Pinokio. 
"Cinta saya pada Lulu adalah ibarat api olimpiade yang tak kunjung padam...!" jawab Pinokio setelah dinasehati Lupus.

"Aneh, saya kok jadi mikirin si Pinokio itu. Saya kasihan. Dia telah begitu baik..Saya kok jahat, ya? Padahal bisa saja saya belajar mencintainya.”

“Enggak, Lu. Kamu salah kalau kamu memulai mencintai seseorang dari rasa kasihan. Kamu akan menyesal. Percaya deh. Oke, untuk beberapa saat kamu bisa mencintainya. Tapi selanjutnya kamu akan merasa terjebak. Ingin melepaskan diri tapi nggak bisa. 
Kamu masih terlalu kecil, Lu, untuk serius pacaran seperti itu. Kamu masih butuh banyak mencoba. Seseorang itu untuk memilih pilihan yang tepat, butuh menjajaki beberapa
calon. Kita kan tak mungkin bisa menilai satu yang terbaik tanpa membandingkannya dengan yang lain. Makannya, Lu, kamu nggak salah. Teruskan aja menuruti apa kata hatimu. Dengan begitu kamu kan akan matang sendiri.”
Cinta Olimpiade adalah salah satu cerita yang ada di dalam novel karya Hilman yang terbit Februari 1987 (Saat itu awak masih bermain di dalam perut mamak, dengan usia kandungan 7 bulan) 
Semua cerita di dalam novel ini bertemakan remaja pada saat itu, tapi menurut awak masih tren sampai sekrang, Mengapa Cinta Olimpiade yang awak angkat karena eh karena, awak pernah ngalami apa yang juga di alami si Pinokio #udahituaja nanti awak nanges.

0 comments: